SEMNAS ESAFEST

Seminar Nasional yang dilaksankan pada hari selasa, 21 Mei 2024 merupakan salah satu serangkaian acara dari Education Salatiga Festival yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga.

Mengangkat tema “Membangun Kearifan Lokal & Memahami Warisan Budaya melalui Paradigma Wasathiyah dalam Pendidikan di Era Modern” Jordan selaku Ketua DEMA FTIK dalam sambutannya berharap dengan adanya Seminar Nasional ini, dapat memotivasi para mahasiswa untuk memahami pentingnya pendidikan karakter di era modern melalui penanaman budaya pada jiwa setiap manusia. Lebih lanjut Jordan menjelaskan bahwa ditengah disrupsi moral era modern ini penting mengetahui bahwa pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan dalam setiap lini masyarakat, karenanya kita sebagai mahasiswa memiliki andil dalam hal tersebut.

Dalam sambutan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang saat itu diwakili oleh Wakil Dekan 3, Ibu Dra. Siti Asdiqoh M.Si. berpesan dalam pidato singkatnya agar kelak jika menjadi seorang guru selalu menggunakan pendekatan metode pembelajaran yang melibatkan kebudayaan sesuai dengan latar belakang siswa, “Yang dari FTIK khususnya, ranahnyakan akan menjadi guru, jadi ketika kita berdakwah menanamkan etika kepada anak-anak itu lebih mudah jika kita menggunakan pendekatan budaya atau kearifan budaya lokal sesuai dengan kondisi anak didik,” tuturnya.

Kegiatan Seminar Nasional yang dihadiri oleh lebih dari 300 peserta ini berjalan dengan lancar. Penyampaian materi dari 2 pemateri hebat yaitu Bapak Irfan Afifi yang merupakan sosok Penulis Budayawan, dan Bapak Dr. Drs. H. Hono Sejati, SH, M.Hum. Rektor UNDARIS Semarang yang dipandu oleh moderator yang kompeten dibidangnya yaitu Saudara Wahyu Fajar Setiawan seorang guru bahasa inggis dan Broadcaster Radio 99.9 Fm sekaligus guru Sekolah Dasar, membuat Seminar Nasional ini menjadi lebih menarik.

Bapak Irfan Afifi yang menjadi pemateri pertama menyampaikan banyak hal terkait pendidikan dan kebudayaan dari prespektifnya sebagai seorang penulis budayawan, “Pendidikan itu seharusnya tidak mengasingkan peserta didik dari akar kebudayaan. Ini merupakan pendidikan yang merusak siswa.” tegas nya. Tugas pendidikan salah satunya yaitu sebagai sebuah pedoman kebudayaan yang menciptakan, menyatukan, melanjutkan, meneruskan, menggabungkan lagi nilai-nilai kebudayaan kita dengan pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Bapak Hono Sejati (Rektor UNDARIS) mengungkapkan bahwa, dalam persepektif pendidikan, nilai wasathiyah ditanamkan sejak dini kepada anak-anak melalui berbagai cara, salah satunya yaitu dengan sosialisasi. Islam wasathiyah ini merupakan istilah dari Islam moderat yang menjunjung tinggi serta mengedepankan musyawarah antar umat untuk menutuskan sesuatu. Islam wasathiyah ini kental kaitannya dengan keadilan, dimana terletak ditengah-tengah antara kebebasan dan kekakuan pemikiran. Pendidikan Islam wasathiyah yaitu pendidikan yang memadukan antara teks Al-Qur'an dan konteks atau realita yang ada seiring dengan perkembangan zaman. Selain itu pentingnya kearifan lokal dalam dunia pendidikan juga dipaparkan. Untuk pelestarian, pengembangan, pertahanan juga hal penting yang disampaikan agar kita sebagai seorang pendidik kelak sudah paham untuk menanamkan akan pentingnya pendidikan Islam wasathiyah dan kearifan lokal pada saat mengajar.

Selaku Ketua Panitia Fahri mengungkapkan kendala yang terjadi saat dilapangan terkait dengan miss koordinasi pada peserta sehingga tempat duduk yang depan kurang terisi, barisan menjadi kurang rapi. “Penataan peserta kurang ditegasi sehingga banyak kursi kosong di daerah depan, untuk kedepannya yang bertanggung jawab dibagian peserta lebih ditegasi lagi agar tidak terulang lagi,” tutur Fahri.

Berita Lainnya

Hubungi kami di : 085888092982

Kirim email ke kamitarbiyah@uinsalatiga.ac.id

KIRIM PESAN
HUMAS DUMAS FTIK
Ada yang bisa kami bantu?