
SALATIGA – Program Studi Tadris IPA Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga mendorong para pendidik untuk mengembangkan sistem assessment yang lebih objektif, terukur, dan mampu enggambarkan kemampuan peserta didik secara lebih komprehensif. Upaya tersebut diwujudkan melalui Seminar Nasional bertema “Inovasi Assessment Pendidikan IPA Berbasis Rasch Model sebagai Fondasi Pembelajaran Mendalam di Era Transformasi Digital”, Kamis (13/8/2026).
Seminar yang berlangsung di Aula Lantai 3 Gedung KH. Ahmad Dahlan UIN Salatiga tersebut menghadirkan Bambang Sumintono, Ph.D., pakar Rasch Model di Indonesia, sebagai narasumber utama. Kegiatan diikuti perwakilan guru dari jenjang RA, MI, SMP, dan SMA di Kota Salatiga dan sekitarnya, serta dosen dan mahasiswa di lingkungan FTIK UIN Salatiga.
Rasch Model untuk Memperkuat Assessment
Ketua Program Studi Tadris IPA UIN Salatiga, Dr. Peni Susapti, S.Si., M.Si., dalam sambutannya mengatakan bahwa assessment menjadi bagian penting dalam implementasi pembelajaran mendalam. Menurutnya, pendidik perlu memiliki kemampuan untuk memastikan bahwa instrumen yang digunakan benar-benar mampu mengukur kemampuan peserta didik.
“Rasch Model merupakan model baru dalam bagian implementasi pembelajaran mendalam. Model ini dapat berguna untuk menguji soal yang akan digunakan dalam assessment,” ujar beliau.
Menurutnya, pemanfaatan Rasch Model diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi guru dalam mengembangkan dan mengevaluasi instrumen penilaian. Dengan demikian, assessment tidak hanya menghasilkan angka, tetapi juga memberikan informasi yang lebih bermakna mengenai kemampuan peserta didik.
Nilai Bukan Sekadar Angka
Penguatan mengenai pentingnya assessment kemudian disampaikan oleh Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd. Ia mengingatkan para pendidik bahwa setiap nilai yang diberikan kepada peserta didik memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar angka.
“Di balik angka nilai yang diberikan oleh guru atau dosen, di sana ada harapan orang tua, ada perjuangan dan doa anak didik kita. Untuk itu, dalam menilai haruslah dilakukan secara objektif dan sungguh-sungguh,”
Menurutnya, evaluasi yang baik harus mampu menggambarkan potensi seorang siswa. Karena itu, proses penilaian harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan tidak semata-mata berorientasi pada hasil berupa angka.
Prof. Rasimin juga menyinggung perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin masuk ke dalam dunia pendidikan. Meskipun teknologi dapat membantu berbagai aktivitas pembelajaran, menurutnya terdapat dimensi kemanusiaan dalam pendidikan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
“Walaupun pembelajaran sekarang sudah adanya AI, namun dalam hal pembelajaran di sekolah ada hati seorang guru yang tidak bisa tergantikan. Motivasi guru menjadi semangat anak didiknya,” ungkapnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan perlu tetap berjalan beriringan dengan peran guru sebagai pendidik, motivator, dan pendamping peserta didik.
Bambang Sumintono, Ph.D. : Skor Belum Tentu Pengukuran
Memasuki materi utama, bapak Bambang Sumintono, Ph.D., mengajak peserta memahami terlebih dahulu perbedaan antara skor dan pengukuran.
Menurutnya, skor dalam ujian pada dasarnya merupakan jumlah jawaban benar yang diperoleh peserta didik. Namun, skor tersebut belum otomatis dapat disebut sebagai hasil pengukuran. Pengukuran membutuhkan instrumen yang memenuhi prinsip dan kualitas tertentu.
Bambang memberikan ilustrasi mengenai empat siswa yang mengerjakan 20 soal matematika. Abdul memperoleh skor 18, Budi 16, Catur 11, dan Dedi 9. Dari data tersebut muncul pertanyaan penting: apakah perbedaan skor Abdul dan Budi menunjukkan jarak kemampuan yang sama dengan perbedaan skor Catur dan Dedi?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa angka dalam assessment perlu dibaca secara lebih hati-hati. Skor tidak selalu menunjukkan jarak kemampuan peserta didik secara proporsional.
Keterbatasan Teori Klasik
Bambang selanjutnya menjelaskan pendekatan teori tes klasik dalam analisis soal. Dalam pendekatan ini, analisis soal dapat dilakukan dengan melihat tingkat kesulitan dan daya diskriminasi atau daya pembeda butir soal. Tingkat kesulitan digunakan untuk mengelompokkan soal menjadi mudah, sedang, atau sulit, sedangkan daya diskriminasi menunjukkan kemampuan soal dalam membedakan peserta didik berdasarkan kemampuan mereka.
Namun, pendekatan tersebut memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satunya adalah tidak secara langsung menjelaskan peserta tes mana yang mengalami kesulitan pada suatu soal. Pendekatan teori klasik juga menghadapi tantangan dalam menentukan tingkat kesulitan soal berbentuk uraian atau esai.
Dari persoalan tersebut, Bambang kemudian memperkenalkan Rasch Model sebagai pendekatan pengukuran yang menghubungkan abilitas atau kemampuan peserta dengan tingkat kesulitan item.
Dalam Rasch Model, data dapat diproses melalui tahapan skor, frekuensi, probabilitas, hingga transformasi logaritma. Proses tersebut menghasilkan ukuran dalam satuan logit, sehingga kemampuan peserta dan tingkat kesulitan soal dapat ditempatkan dalam satu skala pengukuran.
Salah satu konsep penting yang diperkenalkan kepada peserta adalah Wright Map. Melalui peta tersebut, kemampuan peserta tes dapat dipetakan bersama tingkat kesulitan soal. Dengan cara ini, pendidik dapat melihat kesesuaian antara kemampuan peserta didik dengan soal yang diberikan.
Soal Juga Harus Diuji
Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa Rasch Model dapat digunakan untuk menganalisis berbagai aspek assessment. Analisis tersebut mencakup reliabilitas dan validitas instrumen, tingkat kesulitan item, ketelitian item, pemahaman terhadap butir soal, fungsi pengecoh, kemungkinan bias soal melalui Differential Item Functioning (DIF), kemampuan peserta, serta konsistensi peserta tes.
Dalam seminar tersebut, peserta juga mendapatkan contoh analisis tes kognitif pilihan ganda menggunakan data 60 siswa yang mengerjakan 10 soal. Analisis meliputi Wright Map, analisis item, tingkat kesulitan item, ketelitian item, fit item, distractor atau pengecoh, serta analisis kemampuan dan konsistensi peserta tes.
Beliau juga memperlihatkan bagaimana fungsi pengecoh pada soal pilihan ganda dapat dianalisis. Pengecoh yang tidak bekerja dengan baik dapat menjadi indikator bahwa suatu butir soal perlu diperiksa atau diperbaiki.
Selain itu, Rasch Model memungkinkan pendidik mendeteksi Differential Item Functioning (DIF) untuk melihat kemungkinan sebuah soal bekerja secara berbeda pada kelompok peserta berdasarkan karakteristik tertentu, seperti gender, domisili, sosial-ekonomi, atau wilayah.
Melalui seminar tersebut, para guru tidak hanya diperkenalkan pada konsep Rasch Model, tetapi juga diajak melihat assessment sebagai proses pengukuran yang membutuhkan instrumen berkualitas.
Bagi Program Studi Tadris IPA UIN Salatiga, penguatan kompetensi tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan pendidik menghadapi transformasi digital sekaligus mendorong pembelajaran yang lebih mendalam. Teknologi dan pendekatan pengukuran modern diharapkan dapat memperkuat proses pendidikan, tanpa menghilangkan peran guru sebagai sosok yang memberikan motivasi, pendampingan, dan sentuhan kemanusiaan kepada peserta didik.
