September 24, 2026

Salatiga, 22 September 2026 — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Tadris IPA Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga menyelenggarakan Seminar Nasional Science Learning Innovation (SN-SLI) sebagai bagian dari rangkaian Innovation Festival and Science Olimpiad (IFSO) 2026, Selasa (22/9/2026).

Mengusung semangat tema IFSO 2026, “Strengthening Youth Scientific Potential Through Innovation and Sustainability,” seminar ini menjadi ruang akademik bagi peserta untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan pembelajaran sains, inovasi, teknologi, penelitian, serta pentingnya keberlanjutan dalam menghadapi tantangan masa depan.

SN-SLI menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Sabar Nurohman, M.Pd., Koordinator Program Studi Magister Pendidikan Sains FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), serta Dr. Khusna Widhyahrini, S.Pd., M.Si., dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Program Magister Pascasarjana UIN Salatiga. Kegiatan dimoderatori oleh Sayyidatunisak, mahasiswa Program Studi Tadris IPA UIN Salatiga.

Menyiapkan Generasi Muda Menghadapi Perubahan

Dalam pemaparannya, Dr. Sabar Nurohman, M.Pd. mengangkat gagasan tentang penguatan potensi ilmiah generasi muda menuju inovasi yang berkelanjutan. Ia mengajak peserta melihat perubahan zaman sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan sains.

Dr. Sabar menyoroti perubahan karakteristik era yang dihadapi generasi muda, mulai dari perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), Big Data, hingga perubahan kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Dalam situasi tersebut, kemampuan menghafal informasi saja tidak lagi cukup. Peserta didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kolaborasi, serta kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Menurutnya, perkembangan AI justru semakin menegaskan pentingnya kemampuan manusia dalam bertanya, memverifikasi, menilai konteks, mempertimbangkan etika, dan menentukan arah penggunaan teknologi. AI dapat membantu manusia mencari informasi, menjelaskan konsep, menghasilkan ide, menganalisis data, hingga melakukan simulasi, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab dalam memberikan makna dan menentukan bagaimana teknologi digunakan.

Dari Pembelajaran Hafalan Menuju Pemikir Ilmiah

Dr. Sabar juga mengajak peserta merefleksikan tantangan pembelajaran IPA saat ini. Ketika informasi dapat diperoleh dengan mudah melalui internet dan AI, pembelajaran IPA perlu bergerak melampaui sekadar hafalan konsep.

Ia memperkenalkan proses belajar yang mendorong peserta didik untuk mengajukan pertanyaan (question), menyelidiki (investigate), menganalisis (analyze), menjelaskan (explain), menciptakan (create), dan mengambil keputusan (decide).

Pembelajaran IPA, menurut materi yang disampaikan, perlu diarahkan dari pembelajaran yang berpusat pada informasi menuju pembelajaran yang menumbuhkan pemikir ilmiah dan inovator masa depan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui inquiry, persoalan autentik, literasi data, scientific reasoning, kolaborasi, kreativitas, dan inovasi.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menerima jawaban yang sudah tersedia, tetapi belajar menemukan pertanyaan, menguji bukti, menganalisis data, dan menghasilkan solusi.

AI Bukan Pengganti Manusia

Salah satu pesan penting dalam seminar adalah bagaimana pendidikan merespons perkembangan AI.

Dr. Sabar menekankan bahwa AI dapat memberikan jawaban, tetapi pendidikan harus tetap mengajarkan peserta didik untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Teknologi dapat mempercepat akses informasi dan membantu mengolah data, tetapi kemampuan manusia dalam menggunakan nalar, nilai, dan empati tetap dibutuhkan untuk memberikan makna dan arah.

Karena itu, penggunaan AI dalam pembelajaran tidak diarahkan untuk menggantikan proses berpikir manusia, tetapi untuk memperkuat kemampuan manusia dalam mengeksplorasi, belajar, menganalisis, menciptakan, dan mengambil tanggung jawab atas keputusan.

Scientific Potential Lebih dari Sekadar Nilai IPA

Dr. Sabar kemudian memperkenalkan konsep Scientific Potential yang tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan IPA.

Potensi ilmiah mencakup curiosity, scientific literacy, problem solving, scientific questions, scientific communication, collaboration, dan scientific responsibility. Dengan demikian, generasi muda tidak cukup hanya memiliki nilai akademik yang baik, tetapi juga perlu memiliki rasa ingin tahu, kemampuan memahami fenomena, mencari solusi, berkolaborasi, serta mempertimbangkan dampak dari ilmu dan teknologi yang dikembangkan.

Ia juga memperkenalkan siklus berpikir ilmiah yang dimulai dari curiosity, observe, question, investigate, analyze data, apply knowledge, serta reflect and improve. Dalam kerangka tersebut, inovasi dipandang sebagai penerapan cara berpikir ilmiah untuk menghasilkan solusi bagi kehidupan yang lebih baik.

Inovasi Harus Berangkat dari Masalah

Salah satu gagasan utama yang ditekankan Dr. Sabar adalah “Don’t start with technology. Start with a problem.”

Peserta diajak untuk tidak memulai inovasi dengan pertanyaan “Teknologi apa yang keren?”, tetapi dengan pertanyaan “Masalah apa yang perlu diselesaikan?”

Teknologi kemudian digunakan sebagai alat untuk menghasilkan solusi yang relevan, bermakna, dan berdampak. Dalam konteks pembelajaran IPA, misalnya, teknologi dapat digunakan untuk menghadirkan pengalaman yang sulit dilakukan secara langsung, seperti simulasi, visualisasi tiga dimensi, eksperimen yang lebih aman, pengolahan data, hingga pemantauan kondisi secara real-time.

Dengan demikian, teknologi tidak menjadi tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperkaya pengalaman belajar dan membantu peserta didik memahami fenomena secara lebih mendalam.

Dari Consumer Menjadi Creator

Dr. Sabar juga mendorong generasi muda untuk mengubah posisi mereka dari consumer menjadi creator.

Generasi muda tidak cukup hanya menggunakan teknologi untuk mencari informasi, menonton, atau menikmati hiburan. Mereka perlu mulai bertanya, mengamati, menyelidiki, merancang, bereksperimen, membuat prototipe, dan menghasilkan solusi.

“Dari rasa ingin tahu, lahir inovasi. Dari inovasi, lahir masa depan yang lebih baik,” menjadi salah satu pesan penting yang dibawa dalam materi seminar.

Dalam konteks pembelajaran IPA, transformasi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai proyek inovasi. Salah satu contoh yang diberikan adalah pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran sistem tata surya, dari penggunaan buku teks, video, animasi 3D, AR/VR, hingga simulasi interaktif dan pembelajaran berbasis inquiry.

Teknologi dinilai menjadi inovatif ketika mampu mengubah cara siswa berpikir dan belajar, bukan sekadar ketika menggunakan teknologi terbaru.

Inovasi dan Sustainability Harus Berjalan Bersama

Selain membahas teknologi dan inovasi, Dr. Sabar juga mengingatkan bahwa tidak semua inovasi otomatis berarti kemajuan. Sebuah inovasi perlu mempertimbangkan konsekuensi lingkungan, sosial, ekonomi, dan etika.

Ia memberikan pertanyaan reflektif kepada peserta: Jika sebuah teknologi menyelesaikan satu masalah tetapi menciptakan masalah baru, apakah teknologi tersebut dapat disebut sebagai inovasi yang baik?

Karena itu, inovasi perlu memenuhi beberapa pertimbangan, antara lain efektif menyelesaikan masalah, memberikan dampak nyata bagi masyarakat, dapat berlanjut dalam jangka panjang, ramah lingkungan, bermanfaat secara sosial, layak secara ekonomi, serta bertanggung jawab secara etika.

Gagasan tersebut memperkuat pesan utama IFSO 2026 bahwa inovasi dan sustainability merupakan dua hal yang perlu berjalan bersama.

Dr. Khusna: Bangun Budaya Riset dan Ekosistem Penelitian

Sementara itu, Dr. Khusna Widhyahrini, S.Pd., M.Si. mengajak mahasiswa untuk membangun budaya riset dan mengubah paradigma penelitian dari sekadar tugas kuliah menjadi scientific contribution.

Dalam materinya, ia menegaskan bahwa mahasiswa bukan hanya konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi produsen pengetahuan. Proses penelitian dapat dimulai dari masalah → pertanyaan → evidence → analysis → solution → impact.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk memiliki research mindset yang meliputi curious, critical, creative, collaborative, dan impact-oriented.

Menurut Dr. Khusna, berbagai persoalan di sekitar mahasiswa dapat menjadi sumber penelitian, seperti persoalan sampah, air, perubahan iklim, literasi sains, energi, teknologi pendidikan, kearifan lokal, dan etnosains.

Lebih jauh, ia menawarkan konsep research ecosystem yang menghubungkan dosen atau mentor, mahasiswa, komunitas riset, dan laboratorium hingga menghasilkan inovasi, publikasi, HKI, implementasi, dan dampak bagi masyarakat.

Membentuk Generasi yang Curious, Critical, Creative, Collaborative, dan Responsible

Seminar Nasional Science Learning Innovation menjadi ruang yang mempertemukan dua perspektif penting dalam pengembangan pendidikan sains. Dr. Sabar menekankan pentingnya scientific potential, inovasi pembelajaran, pemanfaatan teknologi secara bijak, serta transformasi generasi muda dari pengguna menjadi pencipta solusi. Sementara Dr. Khusna menguatkan pentingnya budaya riset, komunitas penelitian, ekosistem riset, serta orientasi penelitian pada dampak dan keberlanjutan.

Melalui SN-SLI, HMPS Tadris IPA UIN Salatiga berupaya menghadirkan pengalaman akademik yang tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi mendorong peserta untuk melihat persoalan nyata sebagai sumber ide, menggunakan sains untuk memahami masalah, memanfaatkan teknologi secara tepat, kemudian mengembangkan solusi yang memberikan dampak.

Pesan yang mengemuka dari seminar tersebut adalah bahwa masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menjawab pertanyaan, tetapi juga generasi yang mampu menemukan pertanyaan baru, mencari bukti, menciptakan solusi, berkolaborasi, dan bertanggung jawab terhadap dampak ilmu pengetahuan dan teknologi.

Semangat tersebut selaras dengan tujuan IFSO 2026 untuk memperkuat potensi ilmiah generasi muda melalui inovasi dan keberlanjutan, sekaligus memperkuat peran Tadris IPA UIN Salatiga dalam membangun budaya akademik, riset, dan inovasi di kalangan mahasiswa maupun peserta didik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *