September 25, 2026

Salatiga – Mahasiswa Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga melaksanakan observasi lapangan untuk mengkaji Pranata Mangsa, sistem penanggalan musim tradisional masyarakat Jawa, sebagai bagian dari implementasi pembelajaran Mata Kuliah Etnosains yang dilaksanakan di bawah bimbingan Isna Avif Nurain, M.Pd. Kegiatan ini mengusung tema “Menggali Sains Lokal”, yang mengajak mahasiswa mengeksplorasi pengetahuan masyarakat lokal, menghubungkannya dengan konsep-konsep sains modern, serta mengimplementasikannya dalam pembelajaran IPA.

Observasi dilaksanakan pada 4 dan 18 Mei 2026 di wilayah Salatiga dan sekitarnya melalui wawancara mendalam dengan delapan narasumber yang memiliki pengetahuan mengenai Pranata Mangsa. Dari kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh informasi mengenai berbagai indikator alam yang selama ini digunakan petani untuk menentukan pergantian musim, seperti arah angin, posisi matahari, curah hujan, suhu udara, hingga kemunculan rasi bintang Lintang Waluku.

Hasil observasi menunjukkan bahwa pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun tersebut memiliki keterkaitan erat dengan konsep-konsep sains modern. Mahasiswa menemukan bahwa tanda-tanda alam yang digunakan petani dapat dijelaskan melalui ilmu fisika dan astronomi, seperti pola angin muson, gerak semu tahunan matahari, prinsip termodinamika, serta siklus hidrologi. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat telah menerapkan prinsip-prinsip ilmiah dalam kehidupan sehari-hari jauh sebelum konsep-konsep tersebut dijelaskan secara formal dalam dunia akademik.

Selain memperkaya pemahaman terhadap materi IPA, kegiatan ini juga melatih mahasiswa untuk melakukan observasi, wawancara, analisis ilmiah, serta menghubungkan fenomena budaya dengan konsep-konsep sains. Pendekatan etnosains menjadi sarana bagi mahasiswa untuk melihat bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang di laboratorium, tetapi juga tumbuh dari pengalaman dan kearifan masyarakat dalam berinteraksi dengan alam.

Meskipun saat ini perubahan iklim menyebabkan pola musim semakin sulit diprediksi, mahasiswa menemukan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pranata Mangsa tetap relevan sebagai warisan pengetahuan ekologis dan budaya. Pengetahuan tersebut dapat menjadi sumber belajar yang kontekstual dalam pembelajaran IPA, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Kegiatan ini merupakan implementasi pembelajaran Mata Kuliah Etnosains di Program Studi Tadris IPA FTIK UIN Salatiga yang dilaksanakan di bawah bimbingan Isna Avif Nurain, M.Pd. Melalui kajian Pranata Mangsa, mahasiswa tidak hanya mempelajari hubungan antara fenomena alam dengan konsep fisika dan astronomi modern, tetapi juga memahami pentingnya pengetahuan lokal sebagai dasar pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan pembelajaran IPA yang mengintegrasikan sains, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan.