September 25, 2026

SALATIGA – Mahasiswa Program Studi Tadris IPA Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih penghargaan dalam ajang Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (KRENOVA) Kota Salatiga. Kegiatan yang diselenggarakan setiap tahun tersebut menjadi wadah bagi pelajar dan masyarakat umum untuk menampilkan karya inovatif di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Prestasi ini diraih melalui inovasi berupa bioreaktor mikroalga sebagai sumber energi listrik alternatif ramah lingkungan. Inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan energi listrik di tengah menipisnya cadangan energi fosil. Di sisi lain, mikroalga memiliki potensi besar sebagai organisme fotosintetik yang mampu menghasilkan biomassa tinggi dan aktivitas metabolisme yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan elektron.

Ketua tim, Damar Akbar Wicaksono, menjelaskan bahwa ide inovasi ini juga berangkat dari pemanfaatan limbah alga pada kolam budidaya ikan lele yang selama ini belum dikelola secara optimal. Melalui teknologi bioreaktor mikroalga, limbah tersebut dapat diubah menjadi sumber energi listrik alternatif yang lebih ramah lingkungan sekaligus membantu menjaga kualitas lingkungan budidaya.

Tim pengembang inovasi terdiri atas Damar Akbar Wicaksono sebagai ketua tim dengan anggota Anisa Dewi Rahmawati, Lulik Nur Sitadewi, Miftakhul Choiroh, dan Nadya Amalia Mardhatila. Dalam proses pengembangannya, tim memperoleh pendampingan dari Dr. Khusna Widhyahrini, M.Si. selaku dosen pembimbing. Dukungan juga diberikan oleh Ketua Program Studi Tadris IPA, Dr. Peni Susapti, S.Si., M.Si., serta Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd.

Pengembangan inovasi ini memerlukan proses yang panjang. Tim melakukan kajian mendalam mengenai potensi mikroalga sebagai sumber energi terbarukan, dilanjutkan dengan perancangan desain bioreaktor sederhana yang menggunakan bahan-bahan mudah diperoleh. Berbagai uji coba dilakukan untuk menyempurnakan sistem hingga menghasilkan prototipe yang layak diikutsertakan dalam kompetisi.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah menentukan komposisi yang tepat antara KCl dan agar-agar sebagai bahan pembuat jembatan garam. Berbagai percobaan dilakukan karena perbedaan komposisi sangat memengaruhi daya hantar ion dan kestabilan arus listrik yang dihasilkan. Selain itu, menjaga kelangsungan hidup mikroalga di dalam reaktor juga menjadi tantangan tersendiri agar tetap aktif berfotosintesis dan menghasilkan energi secara optimal.

Keberhasilan inovasi ini tidak lepas dari sejumlah faktor pendukung, antara lain kemampuan tim dalam mengangkat permasalahan nyata terkait limbah alga dan kebutuhan energi bersih, pengembangan teknologi yang memberikan nilai tambah pada limbah, serta potensi penerapan yang luas bagi masyarakat. Inovasi ini juga dinilai mampu mengintegrasikan konsep energi terbarukan dan pengelolaan limbah dalam satu solusi yang sederhana, berkelanjutan, dan aplikatif.

Ke depan, tim berharap inovasi bioreaktor mikroalga dapat dikembangkan dari skala riset menjadi teknologi yang dapat dimanfaatkan secara luas, khususnya di daerah terpencil dan wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses listrik. Tim juga berencana menjalin kerja sama dengan pemerintah desa, pembudidaya lele, dan pelaku UMKM untuk menguji penerapan teknologi ini secara langsung di lapangan. Dengan demikian, inovasi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ganda, yaitu menghasilkan energi listrik bersih sekaligus menjaga kualitas air kolam budidaya.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Tadris IPA UIN Salatiga mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan dan kebutuhan energi berkelanjutan di masyarakat.