September 25, 2026

Salatiga – Mahasiswa Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga melaksanakan kajian etnosains mengenai Tumpang Koyor, salah satu kuliner tradisional Jawa yang memanfaatkan tempe semangit sebagai bahan utama. Kegiatan ini merupakan implementasi pembelajaran Mata Kuliah Etnosains yang dilaksanakan di bawah bimbingan Isna Avif Nurain, M.Pd. Melalui tema “Menggali Sains Lokal”, mahasiswa diajak mengkaji praktik budaya masyarakat, menghubungkannya dengan konsep-konsep sains modern, serta mengembangkan potensinya sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPA.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa melakukan observasi dan wawancara mengenai proses pengolahan Tumpang Koyor serta pemanfaatan tempe semangit yang selama ini menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Jawa. Hasil kajian menunjukkan bahwa tempe semangit bukan sekadar tempe yang telah lama difermentasi, tetapi merupakan produk fermentasi lanjutan yang masih aman dikonsumsi selama kondisinya tetap kering, tidak berlendir, tidak terkontaminasi mikroorganisme berbahaya, dan diolah dengan benar.

Mahasiswa kemudian mengaitkan temuan tersebut dengan konsep-konsep IPA, khususnya pada materi bioteknologi dan fermentasi. Proses fermentasi lanjutan pada tempe menyebabkan perubahan warna dan munculnya aroma khas akibat pemecahan protein yang menghasilkan senyawa amonia. Di sisi lain, fermentasi juga membantu menguraikan protein menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna oleh tubuh. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik pengolahan pangan tradisional yang telah lama dilakukan masyarakat memiliki dasar ilmiah yang dapat dijelaskan melalui ilmu mikrobiologi, biokimia, dan teknologi pangan.

Selain memahami proses fermentasi, mahasiswa juga mempelajari aspek keamanan pangan dalam pemanfaatan tempe semangit. Kajian menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuan lokal mengenai ciri-ciri tempe yang masih layak dikonsumsi dan yang harus dibuang. Pengetahuan tersebut sejalan dengan prinsip keamanan pangan modern yang menekankan pentingnya kebersihan bahan, proses pengolahan yang tepat, serta identifikasi tanda-tanda kerusakan pangan yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Melalui kajian ini, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam mengidentifikasi hubungan antara budaya kuliner dengan konsep-konsep sains yang dipelajari di bangku perkuliahan. Pendekatan etnosains memberikan pemahaman bahwa makanan tradisional tidak hanya memiliki nilai budaya dan cita rasa, tetapi juga menyimpan berbagai konsep ilmiah yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran IPA.

Kegiatan ini merupakan implementasi pembelajaran Mata Kuliah Etnosains di Program Studi Tadris IPA FTIK UIN Salatiga yang dilaksanakan di bawah bimbingan Isna Avif Nurain, M.Pd. Melalui kajian Tumpang Koyor, mahasiswa mengembangkan kemampuan menganalisis praktik pengolahan pangan tradisional berdasarkan perspektif sains modern, sekaligus menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber belajar yang efektif untuk memperkuat pemahaman konsep bioteknologi, keamanan pangan, dan kesehatan dalam pembelajaran IPA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *