
Salatiga 29 April 2025, Program Studi Tadris IPA UIN Salatiga menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Penyusunan Modul Ajar Deep Learning Berbasis STEM untuk MTs/SMP yang diikuti oleh perwakilan dosen, guru MTs/SMP di wilayah Salatiga, mahasiswa, serta alumni. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pendidik dalam menghadapi tantangan pembelajaran abad ke-21 yang semakin kompleks dan berbasis teknologi.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd.. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa paradigma pendidikan saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Guru tidak lagi hanya dituntut menguasai Taksonomi Bloom, tetapi juga harus mampu mengintegrasikan pendekatan STEM dan deep learning dalam pembelajaran untuk menjawab kebutuhan zaman.
Selanjutnya, narasumber pertama, Dr. Peni Susapti, M.Si., memaparkan materi mengenai perkembangan pembelajaran masa kini serta relevansinya dengan visi dan misi FTIK UIN Salatiga. Beliau menekankan pentingnya integrasi Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) dalam pembelajaran sebagai bagian dari implementasi deep learning. Sebagai ilustrasi, beliau mencontohkan evolusi permainan anak dari baling-baling sederhana hingga berkembang menjadi drone, yang menunjukkan pesatnya perkembangan teknologi dan pentingnya adaptasi dalam dunia pendidikan.

Materi inti pelatihan disampaikan oleh narasumber kedua, Arif Widiyatmoko, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Semarang (UNNES). Dalam pemaparannya, beliau menyoroti bahwa transformasi digital dan perkembangan Revolusi Industri 4.0 menuju Society 5.0 menuntut perubahan mendasar dalam dunia pendidikan. Peserta didik diharapkan tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa deep learning dalam pembelajaran merupakan pendekatan yang menekankan pemahaman mendalam (Higher Order Thinking Skills/HOTS) serta penerapan konsep dalam konteks kehidupan nyata. Pembelajaran harus dirancang secara bermakna, menyenangkan, dan berkesadaran, sehingga mampu mengembangkan potensi peserta didik secara holistik, meliputi aspek intelektual, emosional, dan keterampilan.
Dalam mendukung implementasi tersebut, pendekatan STEM menjadi salah satu solusi strategis. STEM memungkinkan integrasi lintas disiplin ilmu yang berorientasi pada pemecahan masalah nyata. Namun demikian, beliau juga mengungkapkan bahwa pembelajaran IPA saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti dominasi metode hafalan, keterbatasan kegiatan praktikum, serta kurangnya integrasi antara STEM dan modul ajar berbasis deep learning.
Sebagai bentuk implementasi, Arif Widiyatmoko memberikan contoh pengembangan modul ajar berbasis STEM melalui permasalahan kontekstual, seperti pencemaran lingkungan akibat limbah industri tekstil. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan melalui inovasi sederhana, seperti pemanfaatan bahan alam (kunyit, bunga telang, kubis ungu) sebagai indikator alami. Dalam proses ini, peserta didik mengintegrasikan aspek sains, teknologi, rekayasa, dan matematika untuk menghasilkan solusi yang aplikatif dan inovatif.
Kegiatan pelatihan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang aktif berdiskusi serta terlibat dalam praktik penyusunan modul ajar. Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru dan calon pendidik mampu mengembangkan perangkat pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21.
Sebagai penutup, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, guru, mahasiswa, dan alumni dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam penerapan pembelajaran berbasis deep learning dan STEM di tingkat MTs/SMP.