{"id":671,"date":"2026-06-27T14:04:03","date_gmt":"2026-06-27T07:04:03","guid":{"rendered":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/?p=671"},"modified":"2026-06-27T14:04:03","modified_gmt":"2026-06-27T07:04:03","slug":"mahasiswa-tadris-ipa-ftik-uin-salatiga-telusuri-konsep-kimia-dalam-pembuatan-tahu-tradisional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/mahasiswa-tadris-ipa-ftik-uin-salatiga-telusuri-konsep-kimia-dalam-pembuatan-tahu-tradisional\/","title":{"rendered":"Mahasiswa Tadris IPA FTIK UIN Salatiga Telusuri Konsep Kimia dalam Pembuatan Tahu Tradisional"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><br>Salatiga \u2013 Mahasiswa Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga melaksanakan kajian etnosains mengenai proses pembuatan tahu tradisional sebagai bagian dari implementasi pembelajaran Mata Kuliah Etnosains yang dilaksanakan di bawah bimbingan Isna Avif Nurain, M.Pd. Kegiatan bertema &#8220;Menggali Sains Lokal&#8221; ini mengajak mahasiswa mengeksplorasi praktik masyarakat, menghubungkannya dengan konsep-konsep sains modern, serta mengembangkan pemanfaatannya sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPA.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Observasi dilaksanakan pada 10 Mei 2026 di industri tahu rumahan &#8220;Tahu Makmur&#8221; di Kota Salatiga. Melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan pengrajin, mahasiswa mempelajari setiap tahapan pembuatan tahu, mulai dari perendaman kedelai hingga proses pencetakan, sekaligus mengidentifikasi konsep-konsep kimia yang terjadi pada setiap proses tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil kajian menunjukkan bahwa proses pembuatan tahu tradisional memiliki keterkaitan yang erat dengan berbagai konsep dalam ilmu kimia. Tahap perendaman kedelai merupakan proses hidrasi, yaitu penyerapan air ke dalam jaringan kedelai sehingga teksturnya menjadi lebih lunak dan mudah diolah. Selanjutnya, proses penggilingan membantu memperbesar luas permukaan partikel kedelai sehingga protein lebih mudah terekstraksi ke dalam air. Setelah itu, dilakukan penyaringan menggunakan kain sebagai bentuk filtrasi untuk memisahkan sari kedelai dari ampasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mahasiswa juga menemukan bahwa proses pemanasan sari kedelai menyebabkan denaturasi protein, yaitu perubahan struktur protein akibat suhu tinggi. Tahap berikutnya, penambahan cuka sebagai koagulan memicu perubahan pH yang menyebabkan protein menggumpal membentuk tahu. Proses tersebut dikenal sebagai koagulasi protein, salah satu konsep penting dalam kimia pangan. Setelah proses penggumpalan selesai, tahu kemudian dicetak dan dipres hingga menghasilkan tekstur yang padat dan siap dipasarkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menariknya, para pengrajin tahu masih mengandalkan pengalaman dan insting dalam menentukan takaran bahan maupun lama proses produksi. Meskipun dilakukan tanpa bantuan peralatan modern, produk tahu yang dihasilkan tetap memiliki kualitas yang konsisten. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik tradisional masyarakat mengandung pengetahuan empiris yang selaras dengan prinsip-prinsip sains modern.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui kegiatan observasi ini, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam mengidentifikasi fenomena ilmiah yang terdapat pada proses produksi pangan tradisional. Pendekatan etnosains memberikan pemahaman bahwa aktivitas masyarakat sehari-hari menyimpan banyak konsep sains yang dapat dijadikan media pembelajaran sehingga materi IPA menjadi lebih kontekstual dan mudah dipahami oleh peserta didik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan ini merupakan implementasi pembelajaran Mata Kuliah Etnosains di Program Studi Tadris IPA FTIK UIN Salatiga yang dilaksanakan di bawah bimbingan Isna Avif Nurain, M.Pd. Melalui kajian proses pembuatan tahu tradisional, mahasiswa mengembangkan kemampuan menganalisis keterkaitan antara pengetahuan lokal dan konsep-konsep kimia modern, sekaligus mengidentifikasi potensi industri pangan lokal sebagai sumber belajar yang autentik dalam pembelajaran IPA berbasis etnosains.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salatiga \u2013 Mahasiswa Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-671","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/671","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=671"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/671\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":672,"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/671\/revisions\/672"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=671"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=671"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tarbiyah.uinsalatiga.ac.id\/tipa\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=671"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}