BKPI UIN Salatiga Perkuat Kerja Sama dengan UIN AM Sangadji Ambon Lewat Kuliah Tamu dan Penandatanganan MoU

AMBON — Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga memperkuat jejaring akademik dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Abdul Muthalib Sangadji Ambon melalui kuliah tamu bertema Bimbingan dan Konseling Islam Integratif: Konsep dan Teori yang digelar di Kampus UIN AM Sangadji Ambon, Jumat (17/7/2026). Kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama antarfakultas serta antarprogram studi.

Kuliah tamu menghadirkan Ketua Program Studi BKPI UIN Salatiga, Dr. Wahidin, M.Pd., sebagai narasumber. Kegiatan dibuka oleh jajaran Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN AM Sangadji Ambon dan dihadiri Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, dosen, serta mahasiswa Program Studi BKI.

Selain menjadi forum berbagi keilmuan, kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan kolaborasi kelembagaan. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga menandatangani nota kesepahaman dengan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN AM Sangadji Ambon. Kesepakatan itu kemudian ditindaklanjuti melalui penandatanganan Perjanjian Pelaksanaan Kerja Sama (PKS) antara Program Studi BKPI UIN Salatiga dan Program Studi BKI UIN AM Sangadji Ambon.

 

 

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN AM Sangadji Ambon, Dr. Yusuf Laiso, M.Pd    berharap kerja sama yang telah disepakati tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi diwujudkan dalam berbagai program yang berkelanjutan.

“Kami berharap kerja sama ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan melalui kegiatan akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta program pengembangan dosen dan mahasiswa sehingga memberikan manfaat nyata bagi kedua institusi,” ujarnya.

Dalam kuliah tamu, Dr. Wahidin memaparkan konsep Bimbingan dan Konseling Islam Integratif sebagai pendekatan yang mengintegrasikan teori-teori psikologi dengan nilai-nilai Islam dalam praktik layanan konseling. Menurutnya, pendekatan integratif menjadi kebutuhan dalam menjawab persoalan psikologis masyarakat modern yang tidak hanya memerlukan penyelesaian dari aspek ilmiah, tetapi juga penguatan dimensi spiritual.

Ia mengawali pemaparannya dengan menjelaskan perjalanan historis hubungan antara psikologi dan agama, mulai dari masa keduanya dipandang sebagai dua disiplin yang berjalan sendiri hingga berkembangnya paradigma integratif yang kini banyak diterapkan dalam pendidikan dan praktik konseling.

“Konseling Islam integratif tidak sekadar menambahkan ayat atau hadis dalam proses konseling. Pendekatan ini membangun kerangka keilmuan yang memadukan temuan psikologi modern dengan nilai-nilai Islam sehingga mampu membantu individu secara utuh, baik dari aspek kognitif, emosional, sosial, maupun spiritual,” kata Wahidin.

Pemaparan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai implementasi teori dalam praktik konseling, tantangan konselor di era digital, hingga pengembangan kompetensi konselor Islam yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Melalui kuliah tamu dan penandatanganan kerja sama tersebut, kedua perguruan tinggi berharap dapat memperluas kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan keilmuan bimbingan dan konseling Islam. Sinergi ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kontribusi akademisi dalam pengembangan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia.